Berita/Artikel

Menjaga Kesehatan Mental di Era New Normal

Oleh : Risna Wati_ Kelas XI SMAN 1 Margasari

 

Pendahuluan

WHO (Word Health Organization) sebagai badan kesehatan dunia menetapkan virus corona (Covid-19) sebagai pandemi pada 9 Maret 2020.  Artinya virus ini telah menyebar luas di berbagai negara, termasuk Indonesia. Pemerintah, tak terkecuali Indonesia berupaya keras untuk mengatasi pandemi ini yang berdampak pada semua bidang kehidupan. Triliunan anggaran digelontorkan untuk menangani pandemi yang telah merenggut banyak nyawa ini.

 

Pandemi ini tidak sekedar sebagai masalah kesehatan fisik saja akan tetapi dampak pada aspek ekonomi, sosial, pendidikan meyebabkan terjadinya kerentanan pada kesehatan mental masyarakat.

Pada Bidang pendidikan, pengamatan Penulis sebagai siswa SMAN 1 Margasari manakala sekolah menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh ( PJJ) juga memberi dampak buruk pada kesehatan mental para siswa. Hal ini ditandai pada; menurunnya motivasi belajar siswa, perasaan tertekan, dan kejenuhan yang berkepanjangan.

 

Sebagai upaya mempercepat penanganan Covid- 19 ini pemerintah menerapkan skenario new normal. Harapannya melalui new normal ini masyarakat akan dapat hidup berdampingan dengan virus corona sehingga kehidupan masyarakat akan kembali pulih. Era new normal mensyaratkan perubahan pada pola prilaku masyarakat. Masyarakat perlu melakukan adaptasi pembiasaan baru.

Dalam rangka penerapan era new normal ini pemerintah melakukan kebijakan  Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) secara berjenjang dari level 4 hingga level 1. Namun hal ini juga membuat kesehatan mental masyarakat terancam, situasi yang serba membatasi gerak sehari-hari dapat menimbulkan perasaan tertekan atau stres.

Padahal kehidupan era new normal menjadi sebuah keniscayaan yang harus dijalani oleh masyarakat. Namun bagaimana menjaga kesehatan mental di era new normal? Permasalahan ini yang akan Penulis uraikan pada penjelasan berikutnya.

 

Pentingnya kesehatan mental

 

World Health Organization (WHO, 2001), menyatakan bahwa kesehatan mental merupakan kondisi dari kesejahteraan yang disadari individu, yang di dalamnya terdapat kemampuan-kemampuan untuk mengelola stres kehidupan yang wajar, untuk bekerja secara produktif dan menghasilkan, serta berperan serta di komunitasnya.

Seseorang yang bermental sehat dapat menggunakan kemampuan atau potensi dirinya secara maksimal dalam menghadapi tantangan hidup, serta menjalin hubungan positif dengan orang lain. Sebaliknya, orang yang kesehatan mentalnya terganggu akan mengalami gangguan suasana hati, kemampuan berpikir, serta kendali emosi yang pada akhirnya bisa mengarah pada perilaku buruk. Keadaan ini disebut Sebagai gangguan kesehatan mental.

Gangguan kesehatan mental adalah penyakit yang memengaruhi emosi, pola pikir, dan perilaku penderitanya. Ada banyak faktor yang bisa memicu terjadinya gangguan mental, mulai dari menderita penyakit tertentu sampai mengalami stres akibat peristiwa traumatis, seperti ditinggal mati orang yang disayang, kehilangan pekerjaan, atau terisolasi untuk waktu yang lama. Mengingat peristiwa-peristiwa traumatis tersebut kerap dialami banyak orang akhir-akhir ini, maka tak heran adanya pandemi COVID-19 juga sering dikaitkan dengan munculnya gangguan mental pada seseorang. Gangguan kesehatan mental yang paling umum terjadi di era new normal yaitu stres, gangguan kecemasan dan depresi.

Hal ini juga nampak terjadi pada siswa yang ditandai dengan rendahnya kehadiran pada saat Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) maupun Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas. Kondisi ini dikarenakan siswa belum mampu beradaptasi pada pembiasaan baru yang diterapkan dalam pembelajaran. Padahal PJJ sebagai pola pembiasaan baru dalam belajar tidak akan ditinggalkan begitu saja meskipun pandemi telah berakhir Artinya disini semestinya para siswa mampu beradaptasi. Begitupula pada PTM terbatas, penerapan protokol kesehatan akan terus menjadi pembiasaan yang diterapkan pada era new normal.

Era new normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun dengan menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19. Aturan era new normal yang mendorong masyarakat untuk beradaptasi cepat dengan kebiasaan baru dapat memengaruhi kondisi mental setiap orang.

Dalam Era new normal ini penerapan protokol kesehatan 5 M harus menjadi pedoman dalam beraktivitas masyarakat. 5 M tersebut meliputi: mencuci tangan dengan sabun dan air mengali, memakai masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mengurangi bepergian untuk hal yang tidak penting. Sebenarnya jika masyarakat menyadari dalam era new normal  penerapan 5 M ini merupakan bagian dari pola hidup bersih dan sehat yang semestinya menjadi kepribadian setiap individu.

Lantas,bagaimana cara menjaga kesehatan mental di era new normal ini? Ada beberapa hal yang bisa dilakukan; Pertama, miliki kesadaran akan pandemi ini. Artinya kita harus menyadari bahwa covid-19 ini benar – benar ada bukan rekayasa. Dengan demikian hal ini akan mendorong kita untuk belajar tentang covid-19 penularan dan pencegahannya. Sehingga kita akan berperilaku secara tepat.

Kedua, kendalikan fikiran dan emosi. Kita harus mampu mengolah fikiran dan emosi kita. Penting sekali bagi kita untuk menyingkirkan fikiran dan emosi negatif menjadi positif. Harus disadari bahwa era new normal ini hal baru bagi semua orang.

Ketiga, Saring informasi. Perkembangan media sosial yang semakin tinggi berdampak pada pesatnya arus informasi. Oleh karena kita harus pintar memilah informasi yang kita terima, apakah akurat atau sekedar hoak. Karena saat ini banyak berita hoak yang menyesatkan dan menjadi teror. Terlebih ketika kita akan membagikan informasi berita itu ke orang lain, maka harus saring dulu sebelum sharing.

Keempat, Hubungan Pertemanan positif. Sebagai makhluk sosial penting bagi manusia untuk bersosialisasi. Namun demikian agar kesehatan mental kita terjaga kita harus memilih pertemanan yang positif. Teman akan mempengaruhi pembentukan karakter seseorang.

Kelima, Olah raga teratur. Olah raga sangat membantu tubuh kita agar bugar dan tetap sehat. Kita dapat memilih olah raga yang sesuai dengan bakat dan hoby kita. Keenam, Istirahat yang cukup dan berlibur.  Istirahat diperlukan untuk mengembalikan vitalitas tubuh kita setelah beraktivitas. Sementara belibur dibutuhkan untuk mengobati rasa lelah dan jenuh setelah melaksanakan aktivitas rutin kita. Ketujuh, pola makan dengan gizi seimbang. Asupan makanan dengan gizi seimbang sangat diperlukan untuk menjaga imunitas tubuh.

Kedelapan, tingkatkan iman. Kita harus meyakini bahwa wabah pandemi yang terjadi merupakan kehendak dari Alloh sebagai ujian bagi manusia dan Alloh lah yang akan angkat wabah ini. Maka sudah sepantasnya manusia untuk bertobat dan instrospeksi diri atas ujian yang Alloh berikan. Karena sesungguhnya ujian yang membuat seorang hamba dekat dengan Alloh adalah sebuah keberuntungan. Sebaliknya ujian yang menjadikan seseorang makin jauh dengan Alloh itulah musibah sesungguhnya.

Penutup

Pandemi yang terjadi memberi dampak perubahan hidup bagi masyarakat, dan perubahan status kesehatan mental merupakan hal yang tak mungkin dipungkiri. Kemampuan adaptasi dan pengelolaan stres individu di era new normal tidak dapat disamakaan antar satu orang dengan yang lain, oleh karenanya perlu membiasakan diri untuk lebih memerhatikan kesehatan mental diri sendiri dan orang terdekat kita.

Daftar Pustaka

  • Maramis, Albert, (2003). Kesehatan Mental dan Kedaruratan. Jakarta: WHO
  • Suyanto & Asep Jihad, (2016). Betapa Mudah Menyusun Tulisan Ilmiah. Yogyakarta: Penerbit Erlangga

One thought on “Menjaga Kesehatan Mental di Era New Normal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *